Hot NewsJakartaOlahraga

Balita Di Tengah Semburan Gas Air Mata Di Stadion Kanjuruhan Malang

368
×

Balita Di Tengah Semburan Gas Air Mata Di Stadion Kanjuruhan Malang

Sebarkan artikel ini

Jakarta | Tribunsumut

Hot news

Sungguh memilukan ditemukan fakta ada banyak anak dan balita yang dibawa orangtuanya menonton pertandingan Bola Arema FC dan Persebaya di Stadion Kanjuruhan Sabtu 02 Oktober 2022 menahan pedih mata kesakitan akibat terkena semburan gas air mata pada saat munculnya kerusuhan penonton saat menyaksikan Arema FC dikalahkan Persebaya dengan skor 2 : 3.

Suasana tidak menguntungkan itu, menurut saksi mata yang selamat dari kerusuhan itu dikatakan kepada sejumlah media di Malang ada banyak orang tua sambil menggendong anak balitanya keluar menyelamatkan diri dari koridor 13 yakni pintu keluar dari stadion, berhimpitan, jatuh dan ada yang dilaporkan terinjak-injak oleh sesama suporter saat melalui pintu 9, 10, 11,12 dan 13.

Sungguh miris dan sedih, dimana ada juga anak usia 2 dan 5 tahun ditemukan oleh petugas yang mengamankan peristiwa kerusuhan itu sudah tak bernyawa dan bersimbah darah.

TNI dan Polisi yang ikut mengevakuasi para korban kerusuhan, menemukan dan mengevakusi anak yang sudah meninggal dan menderita luka di lokasi terjadinya kerusuhan itu, demikian dilaporkan Tim Litigasi dan Advokasi dan Rehabilitasi Sosial Anak besutan Komnas Perlindungan Anak.

Arist Merdeka Sirait Ketua Umum Komnas Perlindungan Anak menyampaikan temuan tim investigasi dan Advokasi Komnas PA, ditemukan ada seorang anak balita ditemukan tergeletak di tribun penonton yang diselamatkan seorang anggota TNI Sertu Kristian Sihombing personil dari Kodim 08/18 Malang..dan saat ini balita korban kerusuhan itu tengah mendapat perawatan intensif di RS Kanjuruhan Malang.

Arist Merdeka menambahkan, menurut informasi yang dikumpulkan Tim Litigasi dan Advokasi fan Rehabilitasi Sosial Komnas Perlindungan Anak dilaporkan ada 33 anak usia dibawah 18 tahun meninggal dunia dan ada 2 anak balita diantaranya juga meninggal dunia demikian pula ada anak balita saat ini sedang dirawat di RS Kanjuruhan dan Syaful Anwar Malang.

Balita itu sedang mendapat perawatan intensif akibat luka yang disinyalir menjadi korban terkena semprotan gas air mata dan terinjak-injak supporter Malang FC saat ingin menyelamatkan keluar dari stadion Kanjuruhan Malang bersama orangtuanya.

Lagi lagi Arist Merdeka mengutip Laporan dan temuan Tim Litigasi dan Advokasi Komnas PA, ditemukan ada kesalahan prosedural dalam penyelenggaraan dan penanganan kerusuhan yang terjadi Sabtu 01/10/22 .

Kesalahan prosedural itu antara lain, menurut aturan sesungguhnya sebelum 10 menit pertandingan usai seharusnya official penyelenggaraan pertandingan pintu keluar 1-13 sudah terbuka.

Di samping itupula dalam pengamanan kerusuhan antar suporter seharusnya tidak dihalau dengan semprotan gas Air mata, karena menurut aturan Persepakbolaan international FIFA bahwa untuk mengamankan kerusuhan tidak dibenarkan dengan menggunakan semprotan gas air mata kepada penonton apalagi disemprotkan di tribun stadiun Malang.

Di samping itu, tim litigasi menemukan fakta pada saat pertandingan Laga Arema FC dan Persebaya penonton pada saat itu over kapasitas yang disinyalir mencapai 42 ribu suporter sehingga mengakibatkan penumpukan jumlah penonton.

Disamping itu, panitia juga dilaporkan tidak mampu membatasi jumlah penonton dan membiarkan pula balita bersama orangtuanya disertakan menjadi penonton dalam menyaksikan pertandingan antata Arema FC dan Surabaya.

Oleh sebab itu, klub sepak bola Arema Malang, PSSI dan Polda Jatim harus bertanggungjawab terhadap tragedi kerusuhan pertandingan bola di stadion Kanjuruhan Malang yang mengakibat 125 korban dan ratusan korban luka.

Disamping itu, Arist Merdeka mendesak Gubernur Jawa Timur, Walikota dan Bupati Malang Raya dan PSSI segera melaporkan berapa sesungguhnya jumlah anak yang meninggal dunia dan yang masih mendapat di rumah sakit dan dirumah untuk mendapat santunan kematian dan perawatan.

Demikian juga segera memberi sangsi kepada official penyelenggara pertandingan, dan pihak yang terlibat mengamankan kerusuhan termasuk polisi demikian juga panitia dan PSSI.

Pewarta(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *